Wednesday, October 12, 2005

Va" Dove TI Porta Il Cuore (Pergilah Ke Mana Hati Membawamu)

Va" Dove Ti Porta Il Cuore by Susanna Tamaro
Alih Bahasa oleh Antonius Sudiarja, SJ, PT Gramedia Pustaka Utama, 2004.

Seorang perempuan tua menuturkan kisah hidupnya kepada cucunya melalui catatan hariannya. Kegembiraan, kebahagiaan, kesulitan serta pengakuan-pengakuan masa lalunya mengalir dengan lancar dan tenang. Justru melalui pengakuan inilah ia menemukan makna hidup yang sesungguhnya. Kala hidup ada di persimpangan jalan, olah hati dan perasaan akan melengkapi olah rasio dan pikiran kita.

"Kejujuran memerlukan wilayah di mana orang saling percaya; saling percaya merupakan habitat di mana kejujuran bisa lahir..."

"Proses pertumbuhan hidup sedikit mirip mutiara. Semakin besar dan dalam lukanya, semakin keras lapisan pelindung yang tumbuh mengelilinginya...."

"Siapapun yang meninggalkan masa remaja tanpa terluka tak pernah bisa menjadi orang dewasa yang sempurna."

"Airmata yang tidak keluar akan mengendap di hati. Akhirnya air mata itu akan mengeras di sekeliling hati kita dan melumpuhkannya, sama seperti endapan air kotor melumpuhkan gigi roda mesin cuci."

"Hidup bukanlah perlombaan, melainkan membidik-target: menghemat waktu tidaklah penting, yang penting membidik titik di tengah-tengah."

"Ketidakbahagiaan biasanya mengikuti garis perempuan; menurun dari ibu ke anak perempuan, laksana kelainan genetika. Dan bukannya melemah dari generasi ke generasi, kelainan ini malah semakin kuat, sulit dilenyapkan, dan dalam."

"Cinta tidak menyapa si pemalas, kadang-kadang cinta membutuhkan tindakan yang tepat dan berani. Aku menyembunyikan kepengucatanku yang tak habis-habisnya di balik topeng mulia kebebasan personal."

"Untuk dapat mengenali realisme takdir, kau harus melewati beberapa tahun lagi. Sekitar usia enam puluhan, ketika jalan di belakangmu lebih panjang daripada yang terbentang di depanmu, kau melihat sesuatu yang belum pernah kaulihat sebelumnya: jalan yang telah kautempuh ternyata tidak lurus-lurus saja, melainkan bercabang-cabang..."

"Dibandingkan kebahagiaan, kegembiraan hanyalah bagaikan bohlam lampu dengan matahari. Kegembiraan selalu memiliki objek, kau gembira karena sesuatu.... Kebahagiaan, sebaliknya, tidak memiliki objek. Ia menguasaimu tanpa alasan...."

"Sebagian diriki ingin terus menjadi diriku sendiri, sementara bagian yang lain, bagian yang ingin dicintai, bersedia menyesuaikan diri dengan tuntutan dunia."

"Kata-kata memenjarakan pikiran, ... namun hati bernapas..."

"Untuk membenci seseorang, ia harus melukamu, ia harus melakukan sesuatu yang buruk.... Ia tidak melakukan sesuatu, itulah masalahnya. Lebih mudah mati karena ketiadaan daripada karena perasaan sakit; kau bisa memberontak terhadap perasaan sakit, namun kau tak mungkin memberontak terhadap ketiadaan."

"Jikalau aku memiliki keyakinan apapun, aku hanya percaya bahwa segala sesuatu terjadi berdasarkan apakah aku menggunakan kehendakku atau tidak."

"Dalam hidup setiap wanita hanya ada satu lelaki, dan bersamanya wanita itu menjadi lengkap. Namun hanya sedikit... manusia yang ditakdirkan untuk bertemu. Sisanya terpaksa hidup dalam ketidakpuasan, dalam kerinduan abadi..."

"Ketika seseorang mencintai orang lain - jika ia mencintai orang itu dengan segenap jiwa dan raga - hal paling wajar adalah menginginkan anak..."

".... tiba-tiba aku tersadar sinar itu tidak berasal dari dalam diriku sendiri, melainkan hanya pantulan. Kebahagiaan dan cinta akan kehidupan yang kurasakan, tak pernah merupakan milikku... setelah ia pergi, segalanya kembali gelap"

"Pada usia empat puluh tahun tak ada lagi tempat untuk melakukan kesalahan"

"Usiamu tidak ada hubungannya dengan kepekaan atau kedangkalan dirimu, ini hanyalah masalah jalan hidup yang kauambil.... Sebelum mengkhakimi orang, berjalanlah selama tiga bulan dengan mengenakan sepatunya."