Wednesday, October 26, 2005

The Alchemist (Sang Alkemis)

The Alchmeist by Paulo Celho. Diterjemahkan oleh Hamib Baasyaib dan Yunita, Pustaka Alvabet, Jakarta, 2005.

Cerita tentang Santiago, bocah gembala Andalusia yang mengembara mencari harta duniawinya. Dari kampung halamannya di Spanyol, ia ke Tangier dan menyeberangi gurun Mesir. Di oasis ia mengalami perjumpaan yang menentukan dengan sang alkemis. Ia juga bertemu dengan gadis gurun yang menjadi kekasih sejatinya, Fatima. Perjalanan ini mengajar kita tentang kearifan esensial, yaitu bagaimana mendengarkan hati kita, belajar membaca pertanda yang bertebaran di sepanjang hidup manusia. Dan, terutama, bagaimana mengikuti mimpi-mimpi kita.

9:... domba-domba yang tidak perlu membuat keputusan apapun... Mungkin itulah sebabnya mereka selalu berada di dekatku.

14: ... kawanan domba itu bahkan tak sadar bahwa mereka menapaki jalan baru setiap hari. mereka tidak melihat ladang-ladangnya baru dan musimnya berganti-ganti. yang mereka pikirkan cuma makanan dan air.

20: Bila seseorang bertemu dengan orang yang sama setiap hari.... mereka berubah menjadi bagian dari kehidupan orang tadi. Kemudian mereka ingin orang itu berubah. Jika seseorang tidak seperti yang dikehendaki, yang lainnya marah. Setiap orang, rupanya punya ide jelas tentang bagaimana orang lain seharusnya menjalani hidup mereka, tapi tak satu pun mengenai kehidupannya sendiri.

22:... bahwa pada saat tertentu dalam hidup kita, kita kehilangan kendali atas apa yang terjadi pada diri kita, dan hidup kita lalu dikendalikan oleh nasib. Itulah dusta terbesar di dunia.

27: ... siapapun kamu, atau apapun yang kau lakukan, saat kau benar-benar menginginkan sesuatu, itu karena hasrat tadi bersumber di dalam jiwa alam semesta..... Dan, saat kamu menginginkan sesuatu, segenap alam semesta bersatu untuk membantumu meraihnya.

33: Dia harus memilih antara apa yang dia telah menjadi terbiasa dengannya dan apa yang ingin dimilikinya.

39: Rahasia kebahagiaan adalah melihat semua keindahan dunia, dan tak pernah melupakan tetesan minyak di sendok...

48: Aku memandang dunia menurut apa yang ingin kulihat terjadi, beukan apa yang sesungguhnya terjadi.

88: Kita takut kehilangan apa yang kita miliki, entah itu hidup kita ataupun barang-barang dan tanah kita. Tapi ketakutan ini lenyap saat kita memahami bahwa kisah hidup kita dan sejarah dunia ini ditulis oleh tangan yang sama.

104: Makanlah pada saatnya makan. dan jalanlah terus di saat harus terus berjalan.

141: Seseorang dicintai karena ia dicintai. Tak perlu ada alasan untuk mencintai.

150: Orang takut mengejar impian-impian mereka yang terpenting, sebab mereka merasa mereka tak berhak memperolehnya, atau bahwa mereka tak akan mampu meraihnya.

151: Katakan pada hatimu bahwa takut menderita itu lebih buruk daripada menderita itu sendiri.

154: Itulah titik saat, seperti yang kami ucapkan dalam bahasa gurun, orang mati kehausan ketika pohon-pohon pelm telah terlihat di cakrawala.

155: Bila engkau memiliki harta yang sangat bernilai di dalam dirimu, dan mencoba untuk memberitahu orang lain tentang hal itu, jarang ada yang percaya.

163: Ya, apa gunanya semua itu bagimu kalau kau harus mati?

175: Karena bukanlah cinta namanya bila statis seperti gurun, bukan pula cinta namanya bila menjelajah bumi seperti angin. Dan bukan cinta namanya bila melihat semuanya dari kejauhan... Cinta adalah daya yang mengubah dan meningkatkan Jiwa Buana...

181: Semua yang terjadi satu kali tidak akan terjadi lagi. Tapi semua ayng terjadi dua kali pasti akan terjadi untuk ketiga kali.




0 Comments:

Post a Comment

<< Home